Sabtu, 07 Januari 2012

Hj Wirianingsih Ibu Para hafidz

Oleh Yusuf Assidiq

Proses internalisasi nilai Alquran harus dimulai di tingkat keluarga.
Ibu para hafidz. Itulah julukan yang layak disematkan kepada Hj Wirianingsih. Betapa tidak. Ketua umum PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) itu berhasil mencetak ke-11 buah hatinya menjadi penghapal Alquran. Sungguh luar biasa.
Bagaimanakah aktivis Muslimah itu mampu melahirkan putra-putri yang mampu menghafal ayat-ayat suci Alquran? Wirianingsih, menuturkan, untuk melahirkan para hafiz dibutuhkan komitmen dan keistikamahan dalam mengajarkan Alquran kepada anak dalam segenap aspek kehidupan.
Alquran, bagi Wirianingsih dan keluarganya, adalah kunci meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan mendasari setiap gerak dan langkah pada ajaran mulia yang terkandung dalam Alquran, maka setiap umat akan sanggup menghadapi tantangan sekaligus menyelesaikan segala macam permasalahan.
Itulah prinsip dasar yang dipegang teguh pasangan Mutammimul ‘Ula – Wirianingsih dalam mendidik buah hatinya. Muslimah kelahiran Jakarta, 11 September 1962 itu, mengaku sedari kecil sudah sangat akrab dengan ayat-ayat Alquran. Ia lalu mengajarkan hal serupa kepada buah hatinya.
Wirianingsih mengenalkan Alquran, sebagai pegangan hidup, kepada buah hatinya sejak dini. Menurutnya, pengenalan dan internalisasi nilai Alquran memang harus diberikan kepada anak-anak, sejak masih kecil. Sebab dengan membiasakan anak-anak berinteraksi dengan Kitab Suci, akan menumbuhkan kecintaan terhadap Alquran hingga mereka menginjak dewasa.
Bersama sang suami, Mutammimul ‘Ula, mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Wirianingsih merajut kerja sama untuk menumbuhkan jiwa Alquran kepada putra putri mereka. Pasangan ini berikhtiar untuk memberikan pola pendidikan terbaik demi mencapai hasil yang terbaik pula.
Wirianingsih bersyukur memiliki pendamping yang benar-benar memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak. Sang suami, misalnya, sudah menanamkan kebiasaan kepada seluruh anggota keluarga untuk beri’tikaf di masjid setiap tiba bulan Ramadhan.
Adalah sebuah karunia Allah SWT pada suatu malam di sebuah masjid. Keluarga ini mendengarkan seorang hafiz sedang melantunkan hafalannya. Momen itulah yang semakin menguatkan niat pasangan ini untuk dapat mencetak putra-putrinya menjadi para hafiz Alquran.
Wirianingsih mengungkapkan, selama tujuh tahun pertama setelah menikah, mereka tidak memiliki televisi. Kondisi ini bukan dianggap sebagai kekurangan, justru memberikan kesempatan agar anak-anak bisa fokus mempelajari Alquran.
Saat anak keduanya lahir, dia memperdengarkan muratal Alquran kepada anaknya tersebut. Tapi suatu ketika, dirinya mendengar anaknya itu mengucapkan potongan surat al Baqarah yang biasa dibacanya.
‘’Subhanallah, ternyata anak saya mampu merekam apa yang saya perdengarkan kepadanya,’’ papar Wirianingsih mengenang. Hal itu semakin membuatnya kian bersemangat untuk mendidiknya buah hatinya menjadi penghafal Alquran. Dalam waktu singkat, sang anak sudah menguasai qiraat jilid lima.
Beberapa metode pengajaran Alquran mereka terapkan. Antara lain, pengajian rutin Alquran seusai Maghrib, membiasakan shalat Subuh di masjid yang dilanjutkan dengan aktivitas hafalan Alquran, membiasakan membaca buku, serta berbagai kegiatan lainnya.
Selain mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orangtua, anak-anak juga menimba pendidikan di pesantren hafiz. Sehingga tidaklah mengherankan, jika dalam waktu tidak terlalu lama, mereka sudah mampu menghafal Alquran.
Putra pertama, Afzalur Rachman (24), sudah hafiz Alquran sejak usia 13 tahun. Putra keduanya, Faris Jihady Hanifa (23) sudah hafal Alquran diusia 10 tahun. Putri ketiga bernama Maryam Qonitat, telah hafal Alquran saat berusia 16 tahun. Adapun adik-adik mereka yakni Scientia Afifah, Ahmad Rosikh Ilmi, Ismail Ghulam Halim, Yusuf Zaim Hakim, Muh Saihul Basyir, Hadi Sabila Rosyad, dan Himmaty Muyassarah, memiliki tingkat hafalan berbeda-beda.
Menurut Wirianingsih, menghafal Alquran akan memiliki banyak manfaat bagi sang anak. ”/Insya Allah/ anak-anak memiliki akhlakul karimah dan ketegasan sikap untuk membendung setiap pengaruh negatif yang marak di tengah masyarakat. Alquran mampu membentengi jiwa mereka agar tetap menjadi umat yang beriman,’’ tuturnya.
Terkait kehidupan keluarga, sambung dia, sangatlah penting antara suami dan istri untuk saling mendukung dan melengkapi. Masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab yang berkaitan. Dia pun menyayangkan jika masih ada anggapan bahwa hanya istri yang bertanggung jawab mendidik anak, sementara suami mencari nafkah saja.
‘’Itu tidak tepat. Perlu ditekankan keberhasilan pendidikan anak merupakan hasil integrasi dan kerjasama yang baik dari suami dan istri, bahkan kalau kita baca lagi literature-literatur agama, justru porsi terbesar mendidik anak ada pada ayah,’’ kata dia lagi.
Dalam pandangannya, anak adalah masa depan keluarga dan bangsa. Maka itu, maju mundurnya peradaban sebuah bangsa sangat tergantung dari cara dan pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anak. Karena itulah, tutur dia, keluarga memiliki peran yang sangat besar.
Selain berhasil mendidik putra-putrinya menjadi penghafal Alquran, Muslimah yang telah aktif berorganisasi sejak di bangku kuliah itu, memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk kegiatan sosial dan keagamaan. Kiprahnya membentuk PP Salimah serta Aliansi Selamatkan Anak Indonesia, merupakan salah satu bentuk kepeduliannya untuk membangun bangsa dan agama.
‘’Untuk memperbaiki kondisi bangsa, kita harus benahi di tingkat keluarga terlebih dahulu. Kita harus menjaga ketahanan keluarga berdasarkan nilai-nilai Alquran,’’ tegas ustazah yang biasa berceramah hingga ke mancanegara itu. ed; heri ruslan
sumber: http://koran.republika.co.id/koran/52/108224/Hj_Wirianingsih_Ibu_Para_Hafiz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar